PALANGKA RAYA – Pengamat Ekonomi, Rio Kriswana, menyoroti urgensi transparansi dalam laporan kinerja PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) untuk Tahun Buku 2025. Fokus utama kritik ini terletak pada diskrepansi nilai antara surplus operasional pengelolaan perkebunan yang mencapai Rp2,86 triliun dengan perolehan laba bersih perusahaan yang tercatat Rp27,9 miliar.
Perbedaan angka yang mencolok ini dinilai berpotensi menimbulkan salah persepsi di mata publik. Rio menegaskan, tanpa penjelasan mendalam mengenai dasar pencatatan, status dana, hingga biaya operasional, masyarakat sulit memahami bagaimana surplus jumbo tersebut tidak sepenuhnya terefleksi dalam neraca laba perusahaan.
Rio menjelaskan bahwa surplus operasional dan laba bersih adalah dua entitas yang berbeda. Menurutnya, surplus sebesar Rp2,86 triliun merupakan hasil pengelolaan aset negara dalam kerangka penugasan pemerintah.
“Sedangkan laba bersih Rp27,9 miliar adalah hasil akhir kegiatan usaha perseroan setelah dikurangi seluruh beban, mulai dari operasional, penyusutan, pajak, hingga komponen akuntansi lainnya,” ujar Rio. Senin, 13/07/26
Ia menambahkan, publik perlu mendapatkan kejelasan apakah angka surplus tersebut merupakan penerimaan bruto, kas yang dikelola untuk negara, atau porsi yang memang tidak menjadi pendapatan perusahaan.
Menariknya, Laporan Tahunan 2025 Agrinas Palma menunjukkan anomali positif. Di tengah penurunan pendapatan usaha dari Rp240,53 miliar pada 2024 menjadi Rp173,35 miliar pada 2025, laba tahun berjalan justru meningkat signifikan menjadi Rp27,88 miliar.
Peningkatan ini ditopang oleh efisiensi, di mana margin laba bersih perusahaan mencapai 16,08 persen. Namun, perlu dicatat bahwa kinerja tersebut mayoritas masih berasal dari segmen konsultansi konstruksi. Hingga akhir 2025, kontribusi dari sektor perkebunan belum masuk dalam laporan keuangan karena masih dalam fase konsolidasi aset.
Terkait mandat pengelolaan 4,11 juta hektare lahan, Rio menyoroti perlunya pemisahan data yang presisi. Berdasarkan laporan, baru sekitar 1,7 juta hektare yang dikelola secara bertahap hingga akhir 2025.
“Perusahaan harus transparan mengenai status serah terima, luas lahan produktif, hingga aset yang sudah menghasilkan pendapatan. Angka 4,11 juta hektare harus diletakkan dalam konteks waktu dan tahapan yang tepat agar publik tidak keliru dalam mengukur produktivitasnya,” tambahnya.
Menatap masa depan, Rio menyodorkan empat rekomendasi strategis bagi Agrinas Palma agar aset besar ini benar-benar memberikan nilai ekonomi nyata:
-
Transparansi Pelaporan: Menyajikan rekonsiliasi yang jelas antara hasil kebun, arus kas, bagian negara, dan pendapatan perusahaan.
-
Optimalisasi Operasional: Mendorong efisiensi melalui digitalisasi dan pemanfaatan teknologi pengawasan produksi.
-
Akselerasi Hilirisasi: Menggeser fokus dari sekadar menjual komoditas primer ke produk turunan bernilai tambah tinggi seperti biodiesel dan bioenergi.
-
Penguatan Tata Kelola (GCG): Memperketat pengendalian risiko dan akuntabilitas selama proses konsolidasi aset berlangsung.
“Tahun 2025 adalah fase konsolidasi. Pengelolaan yang profesional dan transparan adalah kunci agar aset strategis ini mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan sekaligus memperkuat kontribusi terhadap penerimaan negara,” tutup Rio.






