Dari Bumi Tambun Bunga untuk Indonesia: Membawa Best Practice Karhutla Kalteng ke Skala Nasional

PALANGKARAYA – Kalimantan Tengah (Kalteng) bukan sekadar titik di atas peta lahan basah Indonesia; provinsi ini adalah jantung dari ekosistem gambut nasional sekaligus laboratorium hidup penanganan krisis lingkungan hidup. Di balik keberhasilan meredam ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kepemimpinan lapangan yang berani, teruji, dan memahami dinamika akar rumput.

Oleh karena itu, sangat rasional dan strategis apabila penataan jajaran kepemimpinan di Kementerian Kehutanan (Kemenhut) maupun Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mempercayakan amanah kepada figur daerah yang terbukti kompeten. Dalam konteks ini, sosok mantan Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran, menjadi nama yang sangat relevan dan memenuhi syarat tersebut.

Rekam Jejak Nyata Mengendalikan Karhutla

Selama masa kepemimpinannya di Bumi Tambun Bunga, Sugianto Sabran berhasil membuktikan bahwa karhutla bukanlah takdir tahunan yang harus diterima begitu saja. Melalui kemauan politik (political will) yang kuat, ia merajut integrasi ketat antara pemerintah daerah, TNI/Polri, dan masyarakat adat, serta memberlakukan penegakan hukum yang tegas terhadap perusak lingkungan. Hasilnya, Kalteng sukses bertransformasi dari daerah langganan darurat asap menjadi wilayah yang relatif aman dan terkendali.

Tiga Alasan Utama Figur Daerah Sangat Krusial Bagi Pusat:

  1. Pengalaman Teruji dalam Manajemen Krisis

    Sugianto Sabran memiliki rekam jejak nyata dalam manajemen krisis lingkungan, pengelolaan tata air (water management) di lahan gambut, serta penerapan strategi mitigasi dini (early warning system) yang efektif di lapangan.

  2. Pendekatan Kultural dan Kearifan Lokal

    Pemahaman mendalam mengenai kearifan lokal masyarakat Kalimantan Tengah memastikan bahwa program restorasi dan perlindungan ekosistem dapat berjalan seiring dengan dukungan publik, bukan penolakan.

  3. Perspektif Eksekutor Lapangan

    Kebijakan tata kelola gambut dan mangrove skala nasional tidak cukup dirumuskan dari balik meja di Jakarta. Pusat membutuhkan figur eksekutor yang paham betul detail teknis dan dinamika nyata di lapangan.

Transfer Best Practice untuk Ekosistem Nasional

Mengakomodasi figur berpengalaman seperti Sugianto Sabran ke dalam jajaran pengambil keputusan di tingkat pusat bukanlah bentuk kompromi kedaerahan, melainkan langkah strategis menransfer keberhasilan daerah (best practice) ke tingkat nasional.

Jika Pemerintah Pusat serius ingin mencapai target komitmen iklim global dan melindungi ekosistem gambut secara berkelanjutan, menempatkan pemimpin yang terbukti mampu mengendalikan karhutla di posisi strategis adalah keputusan yang tepat dan berorientasi pada hasil nyata.

Penulis: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *