Talawang News, Palangka Raya – Nuansa elegan berpadu dengan identitas lokal menyatu dalam penampilan Bupati Lamandau, H. Rizky Aditya Putra, saat menghadiri malam ramah tamah Retret Kepala Daerah di pelataran Gedung Graha Wyata Praja, Jakarta, Minggu malam (22/6/2025).
Rizky tampil memikat dengan busana batik putih khas Lamandau, lengkap dengan ikat kepala dan kalung anyaman tradisional, membuatnya tampil berbeda di tengah balutan formal para kepala daerah. Namun lebih dari sekadar penampilan, busana itu memuat narasi kuat tentang ketahanan pangan, filosofi budaya, dan identitas masyarakat Dayak Lamandau.
Tak heran jika penampilan tersebut langsung menyita perhatian Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, yang turut hadir mendampingi acara.
“Bapak Wamen sempat penasaran dengan motif baju saya. Saya jelaskan bahwa ini bukan sekadar batik—tapi lambang ketahanan pangan dan jati diri Lamandau,” ujar Rizky dalam pesan singkat kepada Media Talawang News. Selasa, 24/06/2025.
MAKNA DALAM SETIAP SIMBOL
Motif batik yang dikenakan Rizky merupakan hasil pengembangan dari logo resmi Kabupaten Lamandau.
Desainnya memuat tiga baris gunung, menggambarkan tiga kecamatan awal pembentuk kabupaten serta kontur geografis Lamandau yang berbukit.
Simbol tangkai padi melambangkan kemakmuran, sedangkan gambar Jurung—rumah tradisional penyimpanan hasil panen—mewakili kearifan lokal dalam menjaga hasil bumi dan warisan pertanian masyarakat Dayak.
Di bagian bawah baju, terpampang motto “Bahaum Bakuba”, yang berarti musyawarah untuk mufakat—sebuah falsafah hidup masyarakat Lamandau dalam menjaga persatuan dan harmoni sosial.
SIMBOL LOKAL DI PANGGUNG NASIONAL
Di tengah suasana formal, penampilan Rizky menjadi angin segar yang menunjukkan bahwa simbol budaya daerah dapat tampil elegan, penuh makna, dan tak kalah menawan dibandingkan busana modern.
Busana itu bukan sekadar pakaian, tetapi pesan visual tentang Lamandau, tentang kekayaan budaya, kemandirian pangan, dan nilai gotong royong yang terus dijaga.
Dengan caranya sendiri, Rizky sukses menjadikan panggung retret nasional ini sebagai momen diplomasi budaya—mewakili suara dan cerita dari tanah Bumi Bahaum Bakuba.






