Lawan Karhutla Sejak 2011, Kai Ujang dan H. Sopian tetap selalu di Garis Depan

PALANGKA RAYA – Di tengah pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan menyelimuti Kota Palangka Raya, dua sosok berusia tak lagi muda masih terlihat berada di garis depan.

Namanya Ujang dan H. Sopian. Di lingkungan tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, keduanya lebih akrab disapa Kai Ujang dan Pa Yan.

Bagi Kai Ujang, medan karhutla bukan sesuatu yang asing. Pria kelahiran Sunda ini telah bergabung dalam kegiatan pengendalian karhutla sejak 2011. Lebih dari satu dekade bersentuhan dengan kebakaran membuatnya akrab dengan panas, asap, medan berlumpur hingga kobaran api yang sewaktu-waktu dapat berubah arah.

Pengalaman panjang itu membuat Kai Ujang memahami bahwa memadamkan karhutla bukan sekadar soal membawa selang dan menyemprotkan air. Ada kondisi medan, arah angin hingga karakter api yang harus diperhitungkan sebelum mengambil langkah.

Di sisi lain, ada H. Sopian, pria asal Palangka Raya yang juga memiliki pengalaman panjang dalam dunia pengendalian karhutla. Bertahun-tahun berada di lapangan membuatnya terbiasa menghadapi situasi yang tidak selalu mudah.

Usia memang tidak lagi muda. Namun, ketika panggilan tugas datang dan tim bergerak menuju titik api, keduanya tidak memilih untuk berada di belakang.

Di tengah kepulan asap yang membatasi jarak pandang, panas yang menyengat dan medan yang sulit dilalui, Kai Ujang dan H. Sopian tetap menjalankan tugasnya. Selang pemadam, peralatan lapangan dan pakaian yang basah oleh keringat menjadi bagian dari perjuangan mereka ketika berhadapan dengan api.

Bagi mereka, pengalaman justru menjadi modal untuk tetap tenang ketika menghadapi situasi di lapangan.

Tidak banyak yang mengetahui siapa saja yang berada di balik proses pemadaman hingga kobaran api akhirnya berhasil dikendalikan. Kamera mungkin hanya merekam api dan asap, sementara di baliknya ada personel yang berulang kali masuk ke area terbakar untuk memastikan api tidak kembali menjalar.

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Agustan Saining, menilai dedikasi personel lapangan seperti Kai Ujang dan H. Sopian memiliki peran penting dalam upaya pengendalian karhutla.

Menurutnya, pengalaman para personel menjadi salah satu kekuatan dalam menghadapi kebakaran yang membutuhkan kesiapsiagaan dan keberanian.

Sosok Kai Ujang dan H. Sopian menjadi potret lain dari perjuangan melawan karhutla. Mereka mungkin tidak selalu berada di depan kamera dan tidak banyak berbicara tentang apa yang dilakukan.

Di bawah langit Palangka Raya yang tertutup asap, semangat dua personel senior itu menjadi pengingat bahwa perjuangan memadamkan karhutla bukan hanya tentang alat dan teknologi. Ada manusia yang berdiri di baliknya—dengan pengalaman, keberanian dan rasa tanggung jawab untuk menjaga hutan, lahan serta lingkungan dari ancaman api.

Karhutla mungkin datang tanpa mengenal waktu. Namun bagi mereka yang berada di garis depan, panggilan untuk memadamkannya juga tidak mengenal batas usia.

Penulis: Erikson

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *