Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI Dialog Bersama Dewan Adat Dayak Kubu Raya

Kubu Raya, TalawangNews.com Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI melaksanakan kegiatan anjangsana dan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bersama jajaran Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kubu Raya, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB tersebut berlangsung di kediaman Ketua Harian DAD Kabupaten Kubu Raya, Lasem, S.Pd., di Jalan Semandang Raya, Blok 16 Nomor 1, Ampera Raya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI terdiri dari Kolonel Tunggul, Kolonel Inf Tofan, Kolonel Inf Candra, dan Kolonel Laut (P) Faisal. Tim turut didampingi oleh Pa Bung Kubu Raya Kodim 1207/Pontianak, Letkol Inf Mukalil.

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pengurus DAD Kabupaten Kubu Raya dan tokoh adat, di antaranya Ketua Harian DAD Kubu Raya Lasem, S.Pd., Sekretaris DAD Kubu Raya Yusmanto, S.Ag., M.Pd., Kuasa Hukum DAD Kubu Raya Agus, Ketua DAD Kecamatan Sungai Ambawang Daniel, S.Pd., Ketua DAD Kecamatan Kuala Mandor Sahidin, Dewan Pakar DAD Kubu Raya Nasution, Ketua DAD Kubu Yulianto, Timanggong Simpang Sekayu Wi Rois, Pasirah Teluk Bakung Andus, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Dalam dialog tersebut, Ketua Harian DAD Kabupaten Kubu Raya Lasem menyampaikan apresiasi atas kunjungan Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI. Ia menilai pertemuan tersebut menjadi kesempatan penting bagi masyarakat adat untuk menyampaikan kondisi serta pandangan mengenai persoalan Karhutla di wilayah Kubu Raya.

Lasem juga menjelaskan bahwa masyarakat adat melalui berbagai tingkatan kelembagaan telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk ikut menjaga hutan dan mencegah terjadinya kebakaran.

“Nilai-nilai adat Dayak juga mengajarkan pentingnya keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap sesama. Prinsip tersebut tercermin dalam filosofi Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata”, ucapnya.

Terkait aktivitas perladangan, Lasem menyampaikan bahwa masyarakat Dayak secara umum tidak menjadikan lahan gambut sebagai lokasi utama untuk berladang. Ia juga menegaskan bahwa masyarakat adat terus mengingatkan berbagai unsur masyarakat agar turut menjaga lingkungan.

Sementara itu, Sekretaris DAD Kabupaten Kubu Raya Yusmanto menjelaskan bahwa praktik perladangan berpindah yang dahulu dilakukan secara turun-temurun kini sudah semakin jarang dilakukan.

Ia mengatakan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan berladang, masyarakat Dayak tetap mempertahankan nilai-nilai adat dan ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Aktivitas tersebut juga umumnya dilakukan secara berkelompok dan tidak dalam skala besar.

Dalam kesempatan yang sama, Kuasa Hukum DAD Kabupaten Kubu Raya, Agus, menyampaikan bahwa masyarakat perlu melihat persoalan Karhutla secara menyeluruh dan tidak serta-merta mengaitkannya hanya dengan aktivitas perladangan masyarakat.

“Dampak kebakaran dan asap yang dirasakan masyarakat di sejumlah desa, termasuk gangguan kesehatan seperti ISPA, persoalan air bersih, hingga terganggunya aktivitas pendidikan anak-anak”, terangnya.

Agus juga menyatakan bahwa masyarakat adat mendukung langkah pemerintah dalam penegakan hukum apabila ditemukan adanya pelanggaran terkait Karhutla.

Pandangan serupa disampaikan Ketua DAD Kecamatan Sungai Ambawang Daniel. Menurutnya, penyebab Karhutla perlu dikaji secara menyeluruh berdasarkan kondisi di lapangan dan tidak langsung diarahkan kepada kelompok atau aktivitas tertentu.

Ia juga menyinggung kondisi lahan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air dan saluran parit sehingga lebih sulit ditangani ketika terjadi kebakaran.

Di sisi lain, masyarakat adat juga berharap adanya hujan untuk membantu mengatasi kondisi lahan yang kering. Apabila kondisi tersebut terus berlangsung, masyarakat adat akan mempertimbangkan pelaksanaan ritual adat sebagai bentuk ikhtiar dan doa memohon hujan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kolonel Laut (P) Faisal menyampaikan apresiasi kepada para pengurus adat dan masyarakat yang telah menerima Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI untuk berdialog secara terbuka.

Menurut Faisal, berbagai informasi dan aspirasi yang disampaikan masyarakat dalam pertemuan tersebut akan menjadi bahan masukan untuk disampaikan kepada komando atas.

“Kami datang tidak untuk memberikan janji, tetapi kami akan berbuat. Diskusi ini akan menjadi bahan masukan bagi kami dan komando atas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan Karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Aspirasi dan solusi yang berasal dari masyarakat menjadi salah satu bahan penting dalam mencari langkah penanganan yang tepat di lapangan.

Melalui kegiatan tersebut, Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI bersama masyarakat adat berupaya memperkuat kemitraan serta membangun kesadaran bersama dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah Kabupaten Kubu Raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *